Rabu, 07 Desember 2011

Pembuatan Reagent analisa


1.      Indikator Bromocresol Purple 0.1%
1.1.       Prinsip
Bromocresol Purple (BCP) atau 5 ',5 "-dibromo-o-cresolsulfophthalein, merupakan salah satu indikator pH. Transisi pH 5.2 – 6.8, dengan perubahan warna larutan Ungu  menjadi Kuning.
1.2.         Peralatan
1.2.1.         Labu ukur 100 ml
1.2.2.         Neraca Analitik
1.2.3.         Sudip
1.2.4.         Botol Semprot
1.2.5.         Cawan Timbang
1.3.         Pereaksi
1.3.1.         Indikator Bromocresol Purple
1.3.2.         Ethanol
1.3.3.         Aquadest
1.4.         Prosedur Kerja
1.4.1.         Timbang 0.1 gram  indikator bromocresol purple dalam cawan yang sudah kering dan bersih
1.4.2.         Masukkan dalam labu ukur 100 ml, larutkan dengan menggunakan ethanol 20%
1.4.3.         Aduk hingga homogen

2.      Clean Super Shijiyaku:
2.1.      Peralatan
2.1.1.      Neraca Analitik
2.1.2.      Cawan timbang
2.1.3.      Sudip
2.1.4.      Labu ukur 200 ml
2.1.5.      Botol Semprot


2.2.      Pereaksi
2.2.1.      Methylen Red
2.2.2.      Methylen Blue
2.2.3.      Ethanol
2.3.      Prosedure Kerja
2.3.1.      Timbang 0.4 gram methylene red
2.3.2.      Timbang 0.2 gram methylene blue
2.3.3.      Tambahkan 200 ml ethanol
2.3.4.      Aduk hingga homogen
2.3.5.      Larutan siap digunakan
2.3.6.      Perubahan warna indikator hijau menjadi merah muda

3.      Indikator Amilum (Kanji) 1%
3.1.      Prinsip
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi.
3.2.      Peralatan
3.2.1.      Labu ukur 100 ml
3.2.2.      Neraca Analitik
3.2.3.      Sudip
3.2.4.      Botol Semprot
3.2.5.      Cawan Timbang
3.3.      Pereaksi
3.3.1.      Amilum/kanji
3.3.2.      Aquadest


3.4.      Prosedur Kerja
3.4.1.      Timbang sebanyak 1 gram indikator amilum
3.4.2.      Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga 100 ml
3.4.3.      Aduk larutan hingga homogen sambil dipanaskan
3.4.4.      Larutan siap digunakan

4.      Larutan Mangan Sulfat 2.15 N
4.1.      Prinsip
Mangan sulfat adalah senyawa organic dengan rumus struktur MnSO4 (H2O). Mangan sulfat berada di alam dalam bentuk hidrate, yaitu monohidrat, tetrahidrate, pentahidrate, dan heptahidrate. Bentuk monohydrate adalah yang paling umum.
4.2.      Peralatan
4.2.1.      Labu ukur 1000 ml
4.2.2.      Neraca Analitik
4.2.3.      Sudip
4.2.4.      Botol Semprot
4.2.5.      Cawan Timbang
4.3.      Pereaksi
4.3.1.      MnSO4.(H2O)
4.3.2.      Aquadest
4.4.      Prosedur Kerja
4.4.1.      Timbang sebanyak 363,393 gram mangan sulfat monohydrate (BM=169.02 gr/mol)
4.4.2.      Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga volume 1000 ml
4.4.3.      Aduk hingga homogen
4.4.4.      Larutan siap digunakan



5.      Larutan Potassium Iodate (KIO3) 0.025 N
5.1.      Prinsip
Kalium Iodat adalah salah satu zat pengoksidasi oleh karena itu dapat menyebabkan kebakaran jika kontak dengan bahan mudah terbakar atau agen pereduksi.
5.2.      Peralatan
5.2.1.      Labu ukur 100 ml
5.2.2.      Neraca Analitik
5.2.3.      Sudip
5.2.4.      Botol Semprot
5.2.5.      Cawan Timbang
5.3.      Pereaksi
5.3.1.      KIO3
5.3.2.      Aquadest
5.4.      Prosedur Analisa
5.4.1.      Timbang sebanyak 0.0892 gram KIO3 (BM=214 gr/mol, BE= 35.666 gr/mol)
5.4.2.      Larutkan dengan menggunakan aquadest tanda tera (100 ml)
5.4.3.      Aduk larutan hingga homogeny
5.4.4.      Larutan siap digunakan

6.      Larutan Natrium Tiosulfat (Na2S2O3.5H2O) 0.025 N
6.1.      Prinsip
Natrium Tiosulfat berupa hablur besar, tidak berwarna, atau serbuk hablur kasar. Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara kering pada suhu lebih dari 33°C. Larutannya netral atau basa lemah terhadap lakmus. Sangat mudah larut dalam air dan tidak larut dalam etanol.
6.2.      Peralatan
6.2.1.      Labu ukur 250 ml
6.2.2.      Neraca Analitik
6.2.3.      Sudip
6.2.4.      Botol Semprot
6.2.5.      Cawan Timbang
6.3.      Pereaksi
6.3.1.      Na2S2O3. 5H2O
6.3.2.      Aquadest
6.4.      Prosedur Kerja
6.4.1.      Timbang sebanyak 1.5511 gram natrium tiosulfat secara seksama (BM=248.18 gr/mol)
6.4.2.      Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga volume 500 ml
6.4.3.      Aduk hingga homogen
6.4.4.      Larutan siap digunakan. (standardisasi larutan sebelum digunakan)

7.      Larutan H2SO4 2 N
7.1.      Prinsip
Asam sulfat adalah salah satu mineral asam kuat dengan rumus struktur H2SO4. Asam sulfat murni brsifat sangat korosif, cairan tidak berwarna, cairan pekat dan dapat larut dalam air dalam berbagai konsentrasi.
7.2.      Peralatan
7.2.1.      Labu ukur 100 ml
7.2.2.      Pipet Mohr 10 ml
7.2.3.      Botol Semprot
7.3.      Pereaksi
7.3.1.      H2SO4 pekat
7.3.2.      Aquadest
7.4.      Prosedur Kerja
7.4.1.      Pipet hati-hati 5.3 ml asam sulfat pekat (96%, ρ:1.84 gr/ml), lakukan di ruang asam. (BE=1/2. 98.08 gr/mol)
7.4.2.      Masukkan kedalam labu ukur yang telah diisi air.
7.4.3.      Tepatkan volume hingga tanda tera (100 ml)
7.4.4.      Aduk hingga homogen
7.4.5.      Larutan siap digunakan


8.      Larutan KI 10%
8.1.      Prinsip
Potassium Iodida atau kalium iodide adalah senyawa kimia anorganik dengan rumus kimia KI. Senyawa ini bersifat kurang higroskopis.
8.2.      Peralatan
8.2.1.      Neraca Analitik
8.2.2.      Labu ukur 100 ml
8.2.3.      Sudip
8.2.4.      Botol Semprot
8.2.5.      Cawan timbang
8.3.      Pereaksi
8.3.1.      Kalium Iodide (KI)
8.3.2.      Aquadest
8.4.      Prosedur Kerja
8.4.1.      Timbang 10 gram KI dalam cawan timbang
8.4.2.      Masukkan Kristal KI yang telah ditimbang kedalam labu ukur 100 ml
8.4.3.      Larutkan dengan aquadest hingga tanda tera (100 ml)
8.4.4.      Aduk larutan hingga homogen
8.4.5.      Larutan siap digunakan

9.      Larutan Alkali Iodide Azide (NaOH-KI)
9.1.      Peralatan
9.1.1.      Neraca Analitik
9.1.2.      Labu ukur 100 ml
9.1.3.      Sudip
9.1.4.      Botol Semprot
9.1.5.      Cawan timbang


9.2.      Pereaksi
9.2.1.      Sodium Hydroxide (NaOH)
9.2.2.      Potassium Iodide (KI)
9.2.3.      Sodium Azide (NaN3)
9.2.4.      Aquadest
9.3.      Prosedur Kerja
9.3.1.      Timbang sebanyak 50 gram Sodium Hydroxide (NaOH), larutkan dengan 50 ml aquadest. Aduk hingga homogen (Larutan A)
9.3.2.      Timbang sebanyak 15 gram potassium iodide (KI), larutkan dengan 20 ml aquadest. Aduk hingga homogen (Larutan B)
9.3.3.      Campurkan larutan A dan larutan B (Hati-hati dalam mencampur kedua larutan)
9.3.4.      Aduk hingga homogen (Larutan C)
9.3.5.      Timbang 1 gram sodium azide (NaN3), larutkan dengan 4 ml aquadest. Aduk hingga homogeny (Larutan D)
9.3.6.      Campurkan larutan C dengan larutan D (hati-hati dalam mencampurkan kedua larutan)
9.3.7.      Tambahkan aquadest hingga tanda tera (100 ml)
9.3.8.      Aduk hingga homogeny
9.3.9.      Larutan siap digunakan
Catatan: untuk membuat laruatan NaOH-KI 1000ml = bobot bahan kimia dan volume air  x 10  
Masa kadaluarsa reagent selama 3 bulan (ganti reagent jika sudah lebih dari 3 bulan)

10.  Indikator Ferroin (Penanthroline Monohydrate)
10.1.        Prinsip
Ferroin adalah senyawa kimia dengan rumus [Fe(o-Phen)3]SO4, dimana o-Phen adalah singkatan untuk 1,10 - phenanthroline. Feroin termasuk garam anion seperti klorida dengan rumus molekul C36H24Fe62 + dan massa molekul 596.27 gr/mol.


10.2.        Peralatan
10.2.1.        Neraca Analitik
10.2.2.        Labu ukur 100 ml
10.2.3.        Sudip
10.2.4.        Botol Semprot
10.2.5.        Cawan timbang
10.3.        Pereaksi
10.3.1.        Indikator Ferroin
10.3.2.        FeSO4.7H2O
10.3.3.        Aquadest
10.4.        Prosedur Kerja
10.4.1.        Timbang 1.485 gram indikator phenanthroline indikator
10.4.2.        Masukkan dalam labu ukur 100 ml
10.4.3.        Tambahkan 0.695 gram FeSO4.7H2O
10.4.4.        Larutkan dengan aquadest hingga tanda tera (volume 100 ml)
10.4.5.        Kocok hingga homogen
10.4.6.        Larutan siap digunakan
11.  Kalium Bikromat (K2Cr2O7) 0.25 N
11.1.        Prinsip
Kalium dikromat adalah suatu senyawa pengoksidasi yang sangat kuat.
11.2.        Peralatan
11.2.1.        Neraca Analitik
11.2.2.        Labu ukur 500 ml
11.2.3.        Sudip
11.2.4.        Botol Semprot
11.2.5.        Cawan timbang
11.3.        Pereaksi
11.3.1.        Potassium dikromate/Kalium dikromat (K2Cr2O7)
11.3.2.        Aquadest

11.4.        Prosedur Kerja
11.4.1.        Timbang 6.1295 gram Kalium dikromat (K2Cr2O7). (Mr= 294.19 gr/mol, BE=1/6 xBE)
11.4.2.        Larutkan dengan aquadest dalam labu ukur 500 ml hingga tanda tera.
11.4.3.        Aduk larutan hingga homogen
11.4.4.        Larutan siap digunakan

12.  Larutan Asam Sulfat-Perak Sulfat (AgSO4-H2SO4)
12.1.        Peralatan
12.1.1.        Neraca Analitik
12.1.2.        Labu ukur 500 ml
12.1.3.        Sudip
12.1.4.        Botol Semprot
12.1.5.        Cawan timbang
12.1.6.        Pipet Mohr
12.2.        Pereaksi
12.2.1.        Asam Sulfat pekat (H2SO4)
12.2.2.        Perak Sulfat (Ag2SO4)
12.3.        Prosedur Kerja
12.3.1.        Timbang 5 gram perak sulfat
12.3.2.        Tambahkan 500 ml asam sulfat pekat secara hati-hati
12.3.3.        Lakukan di ruang asam.

13.  Ferro Ammonium Sulfat/FAS((NH4)2SO4.FeSO4.6H2O) 0.05 N
13.1.        Prinsip
Ferro Ammonium Sulfat adalah garam Mohr berupa kristal berwarna hijau muda kebiru-biruan dan stabil, lebih stabil dari fero sulfat yang memiliki warna hampir serupa. Garam ini berbentuk monoklin, tetapi akan mengurai jika dipanaskan. Dibuat dengan cara mencampurkan larutan amonium sulfat dan fero sulfat dengan perbandingan mol yang setara, lalu diuapkan  hingga kering dan membentuk kristal.

13.2.        Peralatan
13.2.1.        Neraca Analitik
13.2.2.        Labu ukur 1000 ml
13.2.3.        Sudip
13.2.4.        Botol Semprot
13.2.5.        Cawan timbang
13.3.        Pereaksi
13.3.1.        Ferro Ammonium Sulfate
13.3.2.        Asam Sulfat Pekat
13.3.3.        Aquadest
13.4.        Prosedur Kerja
13.4.1.        Timbang Ferro Ammonium Sulfate sebanyak 19.56 gram (Mr=391.2 gr/mol)
13.4.2.        Larutkan dengan 300 ml aquadest
13.4.3.        Tambahkan 20 ml Asam Sulfat pekat
13.4.4.        Tepatkan volume larutan hingga 1000 ml
13.4.5.        Aduk hingga homogen
13.4.6.        Larutan siap digunakan

14.  Ammonium Chloride-Ammonium Hydroxide (Larutan Buffer pH 10)
14.1.        Prinsip
Larutan Buffer (larutan penyangga) adalah larutan yang dapat menolak perubahan pH ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan ke dalamnya.
14.2.        Peralatan
14.2.1.        Neraca Kasar
14.2.2.        Labu ukur 1000 ml
14.2.3.        Sudip
14.2.4.        Botol Semprot
14.2.5.        Cawan timbang
14.2.6.        Bulp
14.2.7.        Gelas piala 1000 ml
14.3.        Pereaksi
14.3.1.        Ammonium Chloride (NH4Cl)
14.3.2.        Ammonium Hydroxide (NH4OH)
14.3.3.        Aquadest
14.4.        Prosedur Kerja
14.4.1.        Timbang Ammonium Chloride sebanyak 67,5 gram
14.4.2.        Tambahkan Ammonium Hydroxide 570 ml
14.4.3.        Aduk larutan
14.4.4.        Masukkan dalam Labu ukur 1000 ml dan tepatkan volumenya dengan menggunakan Aquadest hingga 1000 ml

15.  Indikator Eriochrom Black T (Erio-T)
15.1.        Prinsip
Eriochrome Black T adalah indikator compleksometrik yang merupakan bagian dari titrasi compleksometrik , misalnya dalam penentuan kesadahan/kekerasan air. Erio-T adalah zat warna azo yang juga dikenal sebagai ET-00. Dalam bentuk terprotonasinya, Eriochrome Black T adalah berwarna biru. Dan akan berubah warna menjadi merah ketika membentuk kompleks dengan kalsium, magnesium, atau ion logam lainnya. Rumus kimianya dapat ditulis sebagai HOC10H6N = NC10H4(OH).(NO2)SO3Na.
15.2.        Peralatan
15.2.1.        Neraca Analitik
15.2.2.        Labu ukur 100 ml
15.2.3.        Sudip
15.2.4.        Botol Semprot
15.2.5.        Cawan timbang
15.3.        Peraksi
15.3.1.        Eriochrome Black T (Erio-T)
15.3.2.        Methanol
15.3.3.        NH2OH. HCl
15.3.4.        Aquadest
15.4.        Prosedur Kerja
15.4.1.        Timbang Erio-T sebanyak 0.5 gram
15.4.2.        Tambahkan methanol 100 ml
15.4.3.        Larutkan hingga homogeny
15.4.4.        Tambahkan 0.5 gram Hydroksilamin Hydrochloride (NH2OH. HCl)
15.4.5.        Aduk hingga homogen
15.4.6.        Larutan siap digunakan

16.  EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid) 0.01 M
16.1.        Prinsip
EDTA adalah asam karboksilat polyamino dengan fisik tidak berwarna, tidak larut dalam air dan berbentuk padatan.
16.2.        Peralatan
16.2.1.        Neraca Analitik
16.2.2.        Labu ukur 1000 ml
16.2.3.        Sudip
16.2.4.        Botol Semprot
16.2.5.        Cawan timbang
16.2.6.        Oven
16.2.7.        Desikator
16.3.        Pereaksi
16.3.1.        EDTA Disodium Satl Dehydrate
16.3.2.        Aquadest
16.4.        Prosedur Kerja
16.4.1.        Keringkan EDTA disodium Salt Dehydrate dalam oven bersuhu 80 °C selama 5 jam.
16.4.2.        Dinginkan dalam desikator
16.4.3.        Timbang 3.722 gram EDTA disodium salt dehydrate
16.4.4.        Masukkan dalam lbu ukur 1000 ml
16.4.5.        Larutkan dengan aquadest hingga volume 1000 ml
16.4.6.        Aduk hingga homogen, dan larutan siap digunakan
17.  Potassium Hydroxide (KOH) 8 N
17.1.        Prinsip
Kalium Hidroksida adalah senyawa anorganik dengan rumus kimia KOH merupakan senyawa basa kuat.
17.2.        Peralatan
17.2.1.        Neraca Kasar
17.2.2.        Labu ukur 1000 ml
17.2.3.        Sudip
17.2.4.        Botol Semprot
17.2.5.        Cawan timbang
17.3.        Pereaksi
17.3.1.        Potassium Hydroxide
17.3.2.        Aquadest
17.4.        Prosedur Kerja
17.4.1.        Timbang sebanyak 225 gram KOH dalam beaker glass
17.4.2.        Larutkan dengan beberapa ml aquadest
17.4.3.        Masukkan dalam Labu ukur 500 ml
17.4.4.        Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga tanda tera
17.4.5.        Aduk hingga homogeny, dan larutan siap digunakan

18.  Indikator Murexide (Ammonium Purpurate) 1%
18.1.        Prinsip
Murexide (NH4C8H4N5O6, atau C8H5N5O6.NH3), juga disebut purpurate amonium, adalah garam amonium dari asam purpura. Murexide dapat dibuat dengan memanaskan alloxantin dalam gas amonia sampai 100 °C, atau dengan uramil mendidih (5-aminobarbituric acid) dengan oksida merkuri Murexide dalam keadaan kering. Murexide berbentuk serbuk berwarna ungu kemerahan, sedikit larut dalam air. Dalam larutan, akan berwarna kuning dalam larutan asam kuat dan berwarna ungu-kemerahan dalam larutan asam lemah, berwarna biru-ungu dalam larutan alkali.


18.2.        Peralatan
18.2.1.        Neraca Kasar
18.2.2.        Labu ukur 100 ml
18.2.3.        Sudip
18.2.4.        Botol Semprot
18.2.5.        Cawan timbang
18.3.        Pereaksi
18.3.1.        Murexide
18.3.2.        Aquadest
18.4.        Prosedur Kerja
18.4.1.        Timbang 1 gram indikator murexide
18.4.2.        Masukkan dalam labu ukur 100 ml
18.4.3.        Larutkan dengan aquadest
18.4.4.        Tambahkan aquadest hingga tanda tera
18.4.5.        Aduk hingga homogen dan larutan siap digunakan

19.  Larutan Asam Sulfat (H2SO4) 0.02 N
19.1.  Prinsip
Asam sulfat adalah salah satu mineral asam kuat dengan rumus struktur H2SO4. Asam sulfat murni brsifat sangat korosif, cairan tidak berwarna, cairan pekat dan dapat larut dalam air dalam berbagai konsentrasi.
19.2.  Peralatan
19.2.1.  Labu ukur 1000 ml
19.2.2.  Pipet Mohr 10 ml
19.2.3.  Botol Semprot
19.3.  Pereaksi
19.3.1.  H2SO4 pekat 95-97%
19.3.2.  Aquadest
19.4.  Prosedur Kerja
19.4.1.  Pipet hati-hati 0.55 ml asam sulfat pekat (96%, ρ:1.84 gr/cm3), lakukan di ruang asam. (BE=1/2. 98.08 gr/mol)
19.4.2.  Masukkan kedalam labu ukur yang telah diisi air.
19.4.3.  Tepatkan volume hingga tanda tera (1000 ml)
19.4.4.  Aduk hingga homogen
19.4.5.  Larutan siap digunakan

20.  Methyl Orange Indicator
20.1.  Prinsip
Metil Orange (Methyl Orange) MO adalah senyawa organik dengan rumus C14H14N3NaO3S dan biasanya dipakai sebagai indikator dalam titrasi asam basa. Indikator MO ini berubah warna dari merah pada pH dibawah 3.1 dan menjadi warna kuning pada pH diatas 4.4 jadi warna transisinya adalah orange.
20.2.  Peralatan
20.2.1.  Neraca Analitik
20.2.2.  Labu ukur 100 ml
20.2.3.  Sudip
20.2.4.  Botol Semprot
20.2.5.  Cawan timbang
20.2.6.  Beaker glass 100 ml
20.3.  Peraksi
20.3.1.  Methyl Orange
20.3.2.  Ethanol 20%
20.4.  Prosedur Kerja
20.4.1.  Timbang 0.04 gram methyl orange dalam cawan timbang
20.4.2.  Masukkan dalam beaker glass
20.4.3.  Larutkan dengan etanol 20% beberapa ml
20.4.4.  Masukkan dalam labu ukur 100 ml
20.4.5.  Encerkan dengan ethanol 20% hingga tanda tera
20.4.6.  Aduk hingga homogeny, dan larutan siap digunakan
21.  Phenolphtalein Indicator
21.1.  Prinsip
Phenolpthalein adalah senyawa kimia dengan rumus C20H14O4. Fenolftalein tidak larut dalam air dan biasanya dilarutkan dalam alkohol.
21.2.  Peralatan
21.2.1.        Neraca Kasar
21.2.2.        Labu ukur 100 ml
21.2.3.        Sudip
21.2.4.        Botol Semprot
21.2.5.        Cawan timbang
21.2.6.        Beaker glass 100 ml
21.3.  Peraksi
21.3.1.  Phenolpthalein
21.3.2.  Ethanol 96%
21.4.  Prosedur Kerja
21.4.1.  Timbang 0.1 gram Phenolpthalein dalam cawan timbang
21.4.2.  Masukkan dalam beaker glass
21.4.3.  Larutkan dengan etanol 96% beberapa ml
21.4.4.  Masukkan dalam labu ukur 100 ml
21.4.5.  Encerkan kembali dengan ethanol 96% hingga tanda tera
21.4.6.  Aduk hingga homogen, dan larutan siap digunakan



5 komentar:

  1. untuk pembuatan larutan I2 nya gmna om....??

    BalasHapus
  2. sama-sama. Alhamdulillah jika blog ku bisa sedikit membantu teman-teman!

    BalasHapus
  3. Saya mencari ragent untuk analisa air boiler

    BalasHapus

  4. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan pigmen METHYLEN BLUE untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus